Sabtu, 13 Desember 2014

Katanya. Cintaku, Cinta Monyet

Aku pernah jatuh cinta kepada sosoknya yang selalu aku kagumi. Aku kagumi ? entahlah. Kata mereka tidak ada yang patut aku kagumi darinya. Ahh, namanya juga jatuh cinta, BUTA. Empat tahun aku jatuh cinta padanya. Dari awal berteman sampai akhirnya aku disini. Tahukah rasanya ketika cinta bertepuk sebelah tangan ? Tahukah rasanya memendam cinta bertahun-tahun ?. Aku tahu bagaimana rasanya. 

Kata mereka, itu  hanya sekedar cinta monyet, cinta anak baru gede. Iya, aku pikir pun begitu. Mungkin, ini hanya cinta monyet, nanti juga tergantikan. 
Jatuh cinta. Setiap melihatnya selalu saja ada senyum yang muncul dari wajah ini. Melihatnya berbicara, mendengar suaranya, melihat tingkah lakunya, selalu membuat jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. 

Satu tahun berlalu, semenjak aku mengenalnya di kelas 10. Hari itu, adalah pengumuman penempatan kelas. Kelas kami pun diacak beda dari yang sebelumnya. Aku berjalan melihat pengumuman yang menempel di pintu kelas. Tidak sulit menemukan namaku karena berdasarkan abjad aku berada diurutan ke3. Kutelusuri kebawah untuk melihat nama yang lain. Antara sedih, kecewa dan senang, tidak kutemukan namanya di kertas itu. Ohh, kita beda kelas. 

Pertengahan kelas 11, aku dihampiri oleh perasaan galau yang aaarrggh menyebalkan sekali rasanya. Kenapa aku masih seperti ini, Aku selalu saja gagal kalau berhadapan dengannya, mendengar suaranya saja jantungku tak mau tenang. Aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Berjalan didepannya biasa saja, berhadapan dengannya biasa saja dan bercakap dengannya biasa saja. Sama seperti perempuan lain yang biasa saja terhadapnya. Apakah aku berhasil ? sekali lagi. Aku GAGAL.

Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku merasakannya, setelah dengan bodohnya aku mengungkapkan kalau aku jatuh cinta padanya. Iya, aku berkata padanya, 'aku punya perasaan padamu lebih dari seorang teman'. Diapun terdiam, tersenyum lalu berkata 'Aku tidak tahu apa yang aku rasakan ini adalah perasaan yang sama dengan yang kamu rasakan atau hanya perasaan kagumku terhadapmu'. Aku terdiam pergi lalu meninggalkannya. Aku menangis, tapi tidak larut. Aku menangis tapi tidak meronta, aku menangis terdiam. Ohh, aku tahu seperti ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.

Akhir kelas 11, lupakan kejadian itu. Lupakan perasaanku kepadanya, lupakan perasaannya kepadaku. Anggap saja, aku dan dia tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Setelah ini akan ada babak baru yang lebih sulit dan tidak ada waktu lagi untuk menanggapi perasaan ini.
Maukah kamu jadi pacarku ?. Ada seorang Lelaki lain yang dengan gagahnya menghampiriku. Mengungkapkan perasaan yang 'katanya' jujur dari dalam hati. Aku tolak. Alasanku ? Mudah sekali ditebak, karena aku masih mencintai, sosoknya. Lelaki itu tidak menyerah sama sekali. Sekali lagi, dia datang menghampiriku dan berkata "Aku sayang padamu". Dan sekali lagi, aku tolak!. Alasannya, tetap sama. Aku masih mencintai sosoknya. 
Kuceritakan kejadian yang menimpaku kepeda 3 sahabatku. Jawaban mereka sama. "Kalau ada cinta yang nyata, kenapa harus mengejar yang semu ?". Aku terdiam menatap wajah sahabat-sahabatku. Sepertinya mereka benar. Saat itu akupun memutuskan untuk mencoba menyukai Lelaki yang menghampiriku itu. Dan untuk ketiga kalinya lelaki itu menghampiriku, "Aku sayang padamu, maukah kamu . . . ??". Aku terima. 

Lelaki itu hebat! kataku. Karena hanya dia yang bisa membuatku sejenak lupa dengan sosoknya. Kelas 12, aku mulai menjalani babak baru di kehidupanku. Belajar dan menjalani hari-hari bersama Lelaki hebatku itu. Aku lupa dengan sosoknya, aku lupa. Lagipula, diapun sedang sibuk menjalani hari-harinya dengan wanitanya. Iya, wanitanya.

Lulus!! Kita semua lulus. Acara perpisahan pun telah usai. Tidak ada yang tahu bahwa keputusanku saat itu untuk pindah dan kembali ke tempatku berasal karena aku tidak ingin lagi mengingat sosoknya. "Aku sudah bosan tinggal disini". itu alasanku saat itu. 

Gila!. Aku pernah berfikiran gila. Mencari info gila. "Adakah obat untuk menghilangkan ingatan atau memori tertentu ? atau adakah dokter yang bisa 'memotong' memori tertentu ?
Tidak hanya sekali aku pernah berfikiran seperti itu. Gila memang, gila. 
Sosoknya kembali. Kalau mengingat kejadian setahun yang lalu. Aku benci diriku saat itu. Sosoknya kembali dengan santainya. Kembali tanpa dosa dan perasaan yang bersalah. Tapi, akupun bodoh karena menerima kembalinya dia. Sosoknya kembali dan mempertanyakan perasaanku setelah aku mati-matian untuk menghilangkannya. Manusia memang penuh dengan nafsu.
Aku menerimanya, menjalani semuanya dari awal. Jahatnya aku dan sosoknya. Jahatnya aku meninggalkan Lelakiku begitu saja, jahatnya dia meninggalkan wanitanya begitu saja demi memperjelas apa yang seharusnya tidak perlu lagi diperjelas.

Bahagia!. Bahagianya aku ketika tahu bahwa sebenarnya cintaku dulu tidak bertepuk sebelah tangan. Bahagianya aku saat itu. 

Sudah terjadi. Keputusan tidak bisa diganggu gugat. Semuanya menjadi kacau ketika aku akhirnya pasti untuk berangkat ke Negri orang. Semuanya kacau. Sosoknya bertanya kepadaku ' Apakah kamu akan tetap pergi ke Negri itu kalau kamu tahu sebenarnya perasaanku'?. Aku terdiam dan tidak pernah mau menjawab pertanyaan itu dengan yang sebenarnya.

Sosoknya pergi! sosoknya pergi!. Menyebalkan sekali! pergi begitu saja setelah sukses menghancurkan aku dan Lelakiku. Jahat sekali!

Satu tahun sudah berlalu ketika sosoknya datang begitu saja. Menyesal karena pernah mencintainya ?. Sudah tidak ada lagi gunanya. Aku sudah memaafkannya, aku sudah melupakan semuanya, aku sudah tahu semuanya, aku sudah tidak mau tahu lagi tentangnya. Sudah tidak mau lagi. Satu tahun sudah berlalu. Terima kasih, pernah kembali walaupun hanya untuk kembali menyakiti. Terima kasih sekali lagi. 

Memang benar kata mereka. Cintaku, Cinta monyet. 

2 komentar:

  1. kamu hebat cha berani mengungkapkan perasaanmu padahal kamu itu seorang wanita yang nota benenyakan lelaki yang mengungkapkan perasaannya, beda halnya dengan saya samapai sekaran ini saya masih memendam perasaan saya sama seseorang, saya seolah bermental wanita deh hmmm,

    BalasHapus
  2. Haha sebenarnya juga gk sampe mengungkapkan kyk cowok mengungkapkan sih haha.

    BalasHapus