Minggu, 08 Maret 2015

Senandung Cinta


Tatkala angin berhembus merasuk dada
Terbesit pikiran akan hadirnya
Tersenyum indah menanti kehadirannya
Angin pun ikut bersenandung menantinya

Cinta...
Bagai ombak yang menghempas pasir
Datang dengan sendirinya
Pergi pula dengan sendirinya

Cinta ..
Kehadirannya yang tak terduga
Mencari insan yang akan menerimanya
Cinta, cinta, cinta
Aku bersenandung

Senandung cinta

-CMZH- Jogja, 2010

Aku menunggumu

Hijau. Muda. Kecil. Rapuh.
Pertama kali, aku melihatmu. Aku tersenyum. Lucu. Lucu sekali melihatmu tumbuh. Melihat perkembanganmu dari kecil menunduk dan rapuh. Hingga akhirnya perlahan tumbuh, tegak, dan kuat. Sedikit demi sedikit dan perlahan. Setiap hari aku mengunjungimu. Berjalan melewatimu dan melihatmu lalu aku tersenyum. Cepat tumbuh, aku menunggumu. 


Hijau. Tua. Besar. Kuat.
Kesekian kali, aku melihatmu. Sudah tidak lucu lagi. Kamu tumbuh gagah dan kuat. Tidak pantas lagi untuk menunduk malu. Terkadang, angin hanya berdiam diri dan dengan santun melewatimu tanpa ingin merusak sedikitpun kegagahanmu. Gagah sekali.

Kuning. Semakin Tua. Kembali kecil. Mulai rapuh.
Kesekian kalinya yang tidak bisa terhitung lagi, aku melihatmu. Sungguh sedih. Sedih melihatmu mulai rapuh. Kamu tidak lagi segagah dahulu. Semua mengkasihanimu. Bahkan angin, selalu ingin terdiam karena tidak ingin melukaimu, tidak ingin memperlihatkan kepadaku betapa rapuhnya kamu saat ini. Kamu sudah tidak lagi segagah dahulu.

Merah. Mati. Kecil. Rapuh. Indah.
Aku menunggumu. Sudah tidak bisa lagi aku untuk menghitung kesekian kalinya aku melihatmu. Kali ini, Angin tidak ingin terdiam lagi. Angin ingin mengajakmu berjalan-jalan melihat indahnya sekelilingmu. Bahkan angin mengajakmu jauh, hingga kamu menemukan tempat yang sangat asing. Rapuhnya kamu saat ini indah. Rapuhnya kamu menyenangkan. Rapuhnya kamu dan merahnya kamu adalah hal yang selalu aku tunggu. 

Daun merah, aku menunggumu.
-CMZH-

Kamis, 26 Februari 2015

Ingat Sekali Rasanya

Kebosanan yang memuncak, kegelisahan yang menghantui, kenyamanan yang tak pernah ada, ketentraman yang hampir musnah, kebencian yang mulai membara, cinta yang pupus, kebaikan yang mulai luntur, kesopanan yang sudah tdk berarti lagi, pengorbanan yang sia sia, tawa yang hambar, senyum yang terpaksa, airmata menjadi lautan, mata telah lelah, telinga sudah tak dapat menahan lagi, hati berteriak dengan lantang, mulut hanya bisa terdiam membisu. Segera, aku akan pergi jauh. Tak tergapai . Secepatnya.
-CMZH-


Ingat sekali, betapa emosinya aku ketika menulis tulisan itu. Ingat sekali, rasanya ingin membenci semua orang. Ingat sekali, ketika perasaan bercampur aduk tidak karuan. Ingat sekali, ketika semuanya seketika menjadi musuh. Ingat sekali, ketika yg aku inginkan hanya hidup sendiri tanpa ada orang lain yang mengganggu, memancing emosi, berbisik sana sini, bergosip ria tidak karuan, menjelek"an, berani berbicara lantang dibelakang tapi melempem ketika berhadapan. Sekarang aku benar-benar ingat. Dan emosi yang dulu menjadi sebuah rindu yang tidak ada obatnya saat ini.

Selasa, 13 Januari 2015

Kamu Harus Tahu

Tahukah kamu?. 
Bahwa diluar sana beribu-ribu mil jauhnya, ada seorang Wanita yang jatuh cinta begitu dalamnnya kepadamu. Rasa-rasanya tidak ada cinta lain yang bisa sehebat itu mencintaimu. Tapi, kamu malah menjatuhkan Wanita itu begitu saja. Melukainya hingga dia benar-benar merintih. Sakit sekali.

Tahukah kamu ?.
Bahwa ada Wanita lain yang juga mencintaimu. Tapi, Wanita ini pernah menyakitimu seperti halnya kamu menyakiti Wanita yang dengan dalamnya mencintaimu. Wanita ini sedang berusaha mati-matian untuk menutupi lukamu. Memperbaiki semua kesalahannya dan berusaha pula mati-matian untuk membuang duri kecil yang pernah meracunimu dan Wanita ini.

Tahukah kamu?.
Bahwa Wanita yang pernah melukaimu ingin sekali mengembalikan semuanya seperti semula. Layaknya seorang penyihir dalam dongeng yang bisa merubah keadaan dalam sekejap dengan hanya mengucapkan mantra. Wanita ini ingin sekali melihat Wanita yang pernah kamu lukai kembali bersamamu. Bahagia.

Dan tahukah kamu?.
Bahwa Wanita yang pernah melukaimu sebenarnya selalu ingin bersamamu sepanjang waktu. Namun, Wanita ini tahu bahwa sampai kapanpun luka itu selalu ada. Wanita ini tahu bahwa usaha mati-matiannya untuk membuang duri beracun itu bisa jadi sia-sia dalam sekejap. Wanita ini tahu bahwa cintamu padanya tidak bisa terhapus. Dan Wanita ini tahu bahwa merelakanmu bersama Wanita yang pernah kamu lukai itu seperti mematikan dirinya sendiri. Wanita ini tahu.

Dan kamupun harus tahu. 


-CMZH-


Sabtu, 10 Januari 2015

Izinkan Aku Mengucapkannya Lagi

Aku teringat dengan satu ucapan yang pernah kulontarkan kepada seseorang. Tak perlu kusebut namanya, tak perlu. Cukup kusebut kamu, karena sebenarnya akupun tidak mau mengingatnya.
Aku menemukan ucapan itu setelah iseng membuka pesan terkirim diEmailku. Tak sengaja aku menemukan Email jadulku. Ahhh jadi ingat, konyolnya aku dulu. Aku terjatuh. Ohh tidak, lebih tepatnya aku mendekat lalu kamu dorong hingga terjatuh di lubang yang sebenarnya aku pernah terjatuh satu kali. Dan aku hafal sekali jalan menuju lubang itu. Aku hafal sekali. Sangat sangat hafal. Bahkan tak ada yang bisa sepandai aku menghafalnya, kamupun mengakui hal itu. Tapi kamu pandai, ahh mungkin cerdik lebih tepatnya. Cerdik sekali menutupi lubang itu. Hanya kamu tutupi (ternyata). Janjimu, lubang itu kamu timbun agar benar - benar hilang dan juga agar aku tidak lagi terjatuh. Kamu memang cerdik.

Aku jadi teringat dengan dongeng Kancil, Gajah dan Langit Runtuh. Mengajakku menikmati indahnya berada di lubang itu. Lalu seketika kamu meninggalkan aku sendirian di lubang itu karena langit hitammu sudah pergi dan menghilang. Tapi tenang saja, seperti kancil yang melihat gajah berhasil keluar dari lubang itu sendirian dan dengan susah payah. Kamu juga melihatku keluar dari lubang itu lagi, sendirian. Susah payah memang, sampai meneteskan air mata, keringat, menguras hati. Tapi aku berhasil, berhasil keluar lubang itu tanpa bantuanmu. Iya, tanpa kamu.

Apakah aku menyesal pernah mengucapkan kata-kata itu ? Entahlah, sampai saat ini akupun tidak mengetahui perasaanku sendiri. Tapi, mungkin memang tepat sekali aku mengucapkannya kepadamu.       Mungkin memang kasar, sedikit kasar. Tapi sepertinya kamu juga sudah tidak bisa lagi membedakan antara kasar dan halus, gembira dan sedih dan perbedaan perasaan lainnya. Karena yang kamu tahu hanya bagaimana cara membuat perasaanmu senang tanpa memikirkan perasaan-perasaan lain yang kamu korbankan. Pedih sekali mengetahuinya.

Maaf. Harusnya kamu yang meminta maaf. Harusnya. Tapi kali ini izinkan aku meminta maaf kepadamu. Karena aku ingin mengucapkan ucapan itu lagi. Sekali lagi,


Kamu adalah laki-laki terjahat yang pernah aku temui.


CMZH, Freising, 10 Januari 2015.

Kamis, 01 Januari 2015

The Habammers

Tahun baru!! Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menginjak tahun 2015 ini. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin. 
Januari, tepat bulan ke 9 aku tinggal di sini bersama Gastfamilie / Hostfamily. Rasanya baru kemarin aku mendarat di Bandara Muenchen. Rasanya baru kemarin senyum-senyum malu pertama kali bertemu mereka. Rasanya baru kemarin kenalan, bercengkrama, bersantai ria dengan mereka. Iya, rasanya baru kemarin. Kemarin yang sudah jauh sekali tertinggal. 

Rameeeeeee!!! Gfku disini beranggotakan 6 orang. Kalau di Jerman, keluarga ini sudah termasuk keluarga beeesaaaaaar dengan 4 anak. Tapi, 4 anak diGfku ini setara dengan aku + 5 saudara-saudaraku. Rameeeee banget, apalagi semuanya perempuan. Iya, 4 anak perempuan. Aku masih ingat kata-kata yang pernah diucapkan Gastmutter-ku (Hostmother) " Ein Mann, ein Wort. Eine Frau, ein Wörterbuch". Artinya, "Satu laki-laki, satu kata. Satu wanita, satu kamus". Jadi bisa dibandingkan sendiri satu wanita itu setara dengan berapa laki-laki. Haha. 

Banyak banget teman-teman Aupairku yang kaget ketika tau Gfku punya 4 anak perempuan.  Malah ada yang bilang, ' kok kamu milih keluarga yang itu?'. Aku cuma senyum aja waktu dilontarkan pertanyaan itu. Aduh, memang ada apa dengan keluarga yang punya banyak anak ? ada yang salah ?. Justru menurut aku, I'm the luckiest woman in the world!!. Karena bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Repot memang, berisik, capeknya 2 kali lipat, dan harus saaaabaaaaaaaaarr bangeeeeett. Tapi itulah asyiknya! melatih diri, mental, emosi dan hitung-hitung latihan menjadi ibu (hihi). Enggak kebayang gimana membosankannya kalau Gfku cuma punya 2 anak. 

Oke, aku bakalan cerita bagaimana serunya mereka!!

1. The Big Boss

                  Bukan karena ukuran badannya yang besar tapi karena beliaulah yang punya peranan yang sangat penting dikeluarga ini. Hampir semua kegiatan harus dengan izin beliau. Yap, itulah Frau Habammer, Gastmutterku. Menurut aku, beliau itu ibu yang hebat! Supermom! Superwoman!. Beliau bisa melakukan pekerjaan apa saja. Pekerjaan rumah, masak, mengasuh 4 anak, ikut kegiatan sekolah anak-anaknya, jadi salah satu pembicara orangtua murid, benerin lemari dan perabotan yang rusak, belanja, mengecek semua kebutuhan rumah, mengantar sana-sini dan masih banyak lagi yang enggak aku bisa sebutin satu-satu. Beliau adalah seorang arsitektur. Dulu, sempat kerja tapi akhirnya berhenti. Beliau orangnya keras. Hmm. . . tegas lebih tepatnya. Daaaaaaan perfectsionist. Semuanya harus tertata rapi dengan sempurna. Sebenarnya aku senang sih, karena aku juga seorang perfectsionist. Huehehe. 

2. Our Bank

              Nah, beliau ini adalah satu-satunya pemasukan utama keluarga. Herr Habammer, Gastvaterku. Beliau kerja sebagai Wakil presiden di Kantor Pajak Bayern, bisa dibilang termasuk salah satu orang penting. Yang aku kagumi dari beliau adalah walaupun beliau bos di kantor tapi beliau tetap seorang 'papa' dirumah. Pakaiannya selalu sederhana, tetap mau nyuci piring, beres-beres rumah, nemenin anak-anaknya main, dan kalau kemana-mana selalu naik motor vespa bututnya. Beliau itu orangnya bertolak belakang dengan istrinya yang semua harus sempurna. Ohya, beliau itu 'penggemar berat' Wein. Selalu saja ada kiriman berbagai macam Wein ke rumah. 

3. The First and always be

            Gadis cantik pertama, namanya Lara. Dia itu bisa disebut sebagai asisten mamanya dan bos kecil dirumah. Dia yang mengatur adek-adeknya, pokoknya harus sesuai aturannya dia dan dia enggak mau salah. Kalau ini sebenarnya sifat umum yang dimiliki anak pertama. Sama kayak aku, anak pertama selalu jadi bos kalau dirumah. Tapi, anak pertama itulah yang selalu 'makan' akibat dari kesalahan adek-adeknya. Yang paling harus ngalah, yang harus mau disalahin, dan jadi panutan atau istilah kasarnya 'kelinci percobaan' untuk adek-adeknya. 

4. The Twin of Her Father

            Gadis kedua namanya Emilie. Dia itu orangnya sensitif dan moody. Kalau pas baik, baaaiiikkk banget. Tapi kalau udah bete, semua kena betenya dia. Dia yang paling sering berantem sama mamanya karena suka beda pendapat dan pandangan. Dia mirip banget sama papanya, tingkah laku, sok tahunya dan kebiasaannya. Tapi dia yang paling enggak suka kalau disama-samain dengan papanya. Dia itu pecinta semua olahraga dan senang membantu sesama. 

5. The Little Troublemaker

           Gadis ketiga namanya Muriel. Dia punya rambut yang paling cantik warnanya, merah. Dia itu troublemaker di rumah. Paling susah diatur dan yang paling sering dimarahin. Kata mamanya, dia kalau besar cocoknya jadi artis karena paling pintar 'berdrama' . Dia adalah yang paling susah aku taklukan. Dulu, waktu bulan pertama aku paling enggak bisa akrab sama dia. Tapi, sekali ditaklukan bakalan benar-benar nurut. Aku awalnya setuju dengan julukan troublemakernya tapi seiring dengan waktu aku justru yang paling menunggu kehadirannya kalau udah mulai cerewet berimajinasi. 

6. Unseren Sonnenscheinchen (Our Little Sunshine)

            Gadis terakhir namanya Fiona. Dia yang paling imut, paling lucu paling gemesin. Selalu menjadi pencerah suasana. Umurnya baru dua tahun tapi dia terkadang jauh lebih dewasa dari semua kakak-kakaknya.  Maka dari itu dirumah dia dipanggil 'Sonnenscheinchen'.



Königssee

Foto ini dikamarku. Mereka pakai baju adat Bayern. Namanya Trachtenkleid.

Freising

Sabtu, 20 Desember 2014

Jangan . . . Jangan . . . Sekali Lagi, Jangan!!

"Itu salahmu!!" . "Itu semua karena kamu!!". "Coba kamu enggak ngelakuin itu, enggak bakalan seperti ini jadinya!!". 

Jangan. Aku katakan, jangan. Sekali lagi aku katakan, jangan. Jangan selalu menyalahkannya karena belum tentu dia yang salah. Jangan selalu membentaknya, karena belum tentu dia yang berbuat. Jangan selalu menuduhnya, karena bisa jadi dia tidak berniat melakukannya. 

Pergilah!. Carilah!. Pergilah mencari cermin. Tidak usah yang besar. Cukup yang kecil saja. Buat apa kamu bercermin dengan cermin yang besar tapi kamu tidak pernah menyadari kesalahanmu. Tidak pernah mengintropeksi diri. Cukup yang kecil saja, asal kamu sadar atas apa yang kamu lakukan. 

Jangan. Aku katakan, jangan. Sekali lagi aku katakan, jangan. Jangan sesali semua yang pernah terjadi. Karena bisa saja, apa yang terjadi kemarin itu memang yang terbaik untukmu. Sekalipun pahit sekali rasanya. Ingat tidak ? Kebanyakan makan yang manis bisa kena diabetes. 

Syukuri semua yang terjadi. Tersandung lalu jatuh ? alhamdulillah, kita masih bisa merasakan sakit. Jatuh cinta lalu patah hati ? alhamdulillah, hati kita masih berfungsi dengan baik. Ditinggal pergi begitu saja ? alhamdulillah, membuka kesempatan yang lebih baik untuk datang. 

Jangan. Aku katakan, jangan. Sekali lagi aku katakan, jangan. Tidak usah mengandai-andai. "Seandainya.. . Kalau saja . . . Harusnya kemarin itu . . .". Tidak usah.

Percayalah bahwa Allah SWT selalu punya rencana dibalik setiap kejadian. setiap kejadian selalu ada hikmahnya. Kapan kita menyadarinya ?. Bisa saja 5 menit setelah kejadian, 2 minggu setelahnya, 1 bulan atau malah 1 tahun setelahnya. Bersabarlah, karena tidak pernah merugi orang yang bersabar. 

Teruntuk orang yang pernah kusakiti, 'Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya'. Semoga aku dimaafkan. Dan teruntuk orang yang pernah menyakitiku 'Kumaafkan dan kulupakan semua kesakitan itu'




*ditulis di Freising, Bayern. Hari sabtu tanggal 20 Desember 2014, Pukul 21.15 waktu Jerman bagian selatan. Dengan kesadaran yang tinggi, ditemani angin yang sepertinya tidak lelah berlari kencang dari kemarin*

Chairunnisaa Huzaen